Pemuda Muhammadiyah Gunungkidul

Website Resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Gunungkidul

KOKAM membersihkan material longsoran di Bukit Trosari

Longsor yang terjadi di bukit Trosari pada hari Sabtu (02/05/2015) masih menyisakan masalah sampai hari Selasa (5/5/2015). Akses yang menghubungkan 3 desa, meliputi Pilangrejo, Katongan dan Desa Kedungpoh di Kecamatan Nglipar masih terputus akibat tertimbun material longsoran. Akibatnya, aktifitas ekonomi warga terganggu, termasuk pelajar yang sedang menjalani ujian nasional.

Timbunan material longsoran itu memang belum bisa segera dibersihkan setelah kejadian, karena kendala cuaca yang masih terus hujan. Dikhawatirkan masih terjadi pergerakan tanah yang beresiko membahayakan tim relawan dan warga yang melakukan pembersihan material tersebut. Keputusan ini diambil BPDB setelah melakukan assessment & pendistribusian bantuan logistik.

Personel KOKAM Gunungkidul yang menjadi support SDM bagi MDMC terus melakukan koordinasi dengan BPDB Gunungkidul, untuk menentukan tanggap bencana dalam kerangka Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT). Melalui koordinasi intensif sampai pada hari Senin (4/5/2015) sampai pukul 21:00 akhirnya dinyatakan bahwa ancaman pergerakan tanah sudah negatif & bisa dilakukan aktifitas pembersihan material longsoran.

Berangkat dari gedung Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gunungkidul pukul 07:00 personel KOKAM meluncur kelokasi bencana di bukit Trosari, Pilangrejo, Nglipar. Sesuai kebutuhan, tim berbekal alat kebersihan berupa cangkul dan sekop langsung bergabung bersama tim dari BPBD. Kegiatan pembersihan material longsoran ini berlangsung dengan guyub dan penuh keakraban dengan warga terdampak.

Material longsoran yang dibersihkan tidak sederhana, selain tanah dan batuan dengan berbagai ukuran, terdapat pula rumpun bambu yang bergeser akibat longsor sampai menutupi sumur sumber air bersih warga. Kesulitan yang dihadapi tidak menyurutkan semangat, justru bisa memacu kreatifitas dan ide-ide taktis yang spontan dan efektif.

Bekal pelatihan yang telah dijalani, juga pengalaman terjun ke lokasi bencana cukup menguatkan fisik dan mental, terlebih lagi dengan masih memegang teguh semangat “Penolong Kesengsaraan Oemoem” sebagai wujud amaliyah terorganisir dari Al Ma’uun yang diajarkan berulang-ulang oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan pada santri-santrinya generasi awal Muhammadiyah. Aktualisasi teologi ini yang telah membuat warga Muhammadiyah senantiasa menjadi bagian dari maslahat Ummat dan terus ihlas berjuang di garis Persyarikatan, sampai pada generasi di abad yang kedua ini. (Bayu)